percaya pada diri sendiri, motivasi diri.
Be My Self
Oleh : Lina Sofiyah
Aku
beranjak menuju kelas yang tak jauh dari asrama putri. Beberapa santri lainnya
pun berhamburan keluar dari asrama. Tapi aku tak langsung tertuju pada kelas
yang jaraknya hanya berapa langkah dari gerbang asrama. Aku menunggu temanku di
depan asrama. Dengan langkah gontai dan wajah menunduk seperti biasanya aku
berjalan. Merasa risih ada yang memperhatikan, aku segera mengangkat wajahku.
Kakak kelasku bernama Nurmalita menghampiri.
“ Lina, aku perhatiin kalau kamu
jalan tuh kayak kurang pede. Maaf aja ini mah aku Cuma pengen kasih tau. Takut
kamu salah paham. Kenapa? “ ucapnya langsung tanpa menunggu aku yang bertanya
terlebih dahulu.
“ aku keliatan kayak kurang pede ya
kak? “ aku balik menanyakannya. Sekaligus menegaskan pertanyaannya
“ iya… yang aku perhatiin sih
begitu…”
“ sebenernya sih bukan karena gak
pede kak, Cuma aku suka malu aja sama orang. Jadi suka nunduk kalau
jalan.”jelasku.
“ malu itu bagus. Sebagian dari
iman. Tapi kita juga harus punya kata tepat untuk menerangkan definisi soal
malu. Contoh saat berjalan di depan laki-laki. Tapi gak perlu kita berjalan
menunduk juga lin… kita harus berjalan tegak lurus. Bukan untuk sombong atau
terkesan narsis. Tapi berjalan juga punya filosofi tersendiri. Jalan yang menunduk
itu seperti orang yang kurang percaya diri semisalnya…” dia berhenti dan
menghela nafas. Mengatur kata selanjutnya, dan aku masih mendengarkannya.
“ Jalan menunduk, juga bisa di
nilai merendah atau memang kebiasaan
yang sulit dirubah serta menunjukan bahwa jalan yang menunduk itu menggambarkan
sikap kurang peduli terhadap apa yang ada di sekitarnya .” Nada bicaranya mulai
menekan dan berarah. Sempat terbesit kesal dengan nasehatnya, tapi aku bukan
tipe orang yang tak mau mendengarkan masukan dari orang lain. Dan aku harus
menghargai orang yang sudah senantiasa memperhatikanku. Bukankah masukkan yang
positif baik juga untuk intropeksi diri. Lagi pula memang yang sedari tadi yang
dibahas itu nyata dan benar adanya. Gak ada yang bisa ku sangkal mesti ingin.
Kak Nurma hampir beranjak, padahal
aku belum mengucapkan apa-apa. Dia menepuk pundakku “ keep fighting ok!!! PEDE
aja… be your self….” Dan berlalu.
“ apa maksudnya nih, kenapa kak
Nurma gak nunggu apa reaksiku sih???” gumamku sendiri. Tak menyadari tanganku
sudah diseret Asti menuju arah kelas yang hanya beberapa langkah….
“Astiiii…. Kamu ngagetin aja deh…”
teriakku. Namun ia tak peduli.
***
Kelas X B mendadak hening karena
tak ada guru yang hadir, bukan karena kelasku termasuk anak yang rajin atau
patuh. Melainkan kami satu kelas kelelahan karena sepanjang malam tadi kami
harus menghafal al-quran. Entah keberuntunganku atau bukan, langit begitu
mendung dan mulai bermunculan titik-titik butir air hujan alias gerimis. Aku
sudah mengangkat jemuranku saat jam istirahat, jadi tak begitu khawatir jika
hujan pun. Malem ini aku mengikuti lomba pidato 3 bahasa, aku memilih bahasa
arab. Teman satu kelasku pun ada yang mengikutinya, Faizah. Hanya kami berdua tepatnya
kakak kelas yang mengikuti lomba ini karena yang lainnya kebanyakan dari adik
kelas. Sedikit gugup, ragu, dan gak pede. Terlebih lagi aku baru saja dapet
masukan yang membuat aku sadar dan merasa bisa jadi kecerobohanku akan di lihat
semua orang.
“ duh kenapa jadi gak pede ya….”
Keluhku menggerutu. Mungkin sedikit agak keras, karena beberapa teman izin ke
asrama untuk mengambil jemurannya. Kedua tanganku penuh menutupi wajah, serasa
dihujam saja pikirku.
“ gak pede kenapa lin?” sergah Asti
kemudian. Entah suaraku membuatnya terusik atau karena posisi Asti sedang duduk
di sebelah kursiku. Dia slalu tau dan mendengar. Asti memang sahabat dekatku.
Dia slalu menjadi teman curhatku selama di pondok. Sudah hampir 4 tahun kami
bersama berjuang menjalankan aturan pondok pesantren sejak masuk Mts.
“ ini ti, masalah lomba pidato
nanti malam… mendadak aku jadi gak pede.” Jujurku padanya. Ku utarakan apa yang
aku sembunyikan.
“ eits… jangan pesimis ah… yang
penting kamu hafal teksnya kan…?”
“ iya, Insya Allah aku udah hafal…
tapi….” Aku gantung kata-kataku, melihat kelas mulai ramai lagi. “ ti,
ceritanya lanjut di perpustakaan aja ya…” bisikku, dan Asti mengangguk tanda
setuju. Giliranku menyeret tangannya.
Kami telusuri lorong yang langsung
menuju perpustakaan di seberang kelas kami. Sebenarnya lebih cepat melalui
lapangan, tapi hujan menghalangi perjalanan kami. Perpustakaan sedikit lebih
tenang dan tak banyak orang. Dan aku mulai menceritakan kejadian di depan
asrama tadi siang bersama kak Nurmalita. Semua yang di ucapkannya sampai saat
Asti menyeretku menuju kelas. Terlebih lagi kak Nurmalita adalah panitia dalam
lomba pidato. Meski dia bukan menjadi juri penilai.
“ wah… buat orang bingung aja …
sebenarnya dia itu mau nasehatin apa gimana sih? Kok gak nunggu apa respon dan
reaksi kamu dulu buat nanggapin nasehat dia.” Asti sedikit sewot dan kesal
menanggapi ceritaku.
“ aku gak marah, Cuma agak kesel
aja… soalnya aku gak dikasih kesempatan buat menjelaskan atau sedikit mengelak.
“ aku tertawa pelan sendiri menyadari kalau sebenarnya aku juga ingin
protes.
“ tapi ternyata apa yang dia bilang
ke aku memang benar ti, kayaknya aku tuh kurang pede. Jalanku aja dia
komentarin, aku jadi baru sadar ternyata kita gak bisa berbuat sesuka hati
senyaman yang kita mau sendiri. Soalnya banyak mata yang bisa aja memperhatikan
kita.” Lanjutku.
Asti hanya mengangguk dan
menenangkanku. Setuju dengan kata-kataku untuk lebih baik lagi dalam bersikap.
Menjaga title dan notaben kita sebagai muslimah serta santriwati yang harus
berakhlakul karimah dan berprinsip. Menjadi diri sendiri dan mau menerima
masukan orang lain, dan bukan malah menjadikan kita memiliki sifat bermusuhan
bila tak suka di nasehati orang lain.
“ oke kalau begitu, setelah shalat
magrib kamu latihan lagi ya… nanti aku yang jadi penontonnya sekaligus juri
deh….” Seru Asti menatap tulisan di dalam buku ku yang berisi teks pidato.
“ oke….” Kami tuntaskan cerita dan
kembali ke kelas.
***
Adzan magrib tinggal 15 menit lagi
berkumandang, dan aku baru saja tiba di dalam masjid. Aku menggunakan waktuku
yang sedikit itu untuk lebih rileks dalam menyampaikan dan menghafal teks
pidatonya. Masih terbawa suasana siang tadi, aku hanya memejamkan mata dan
berusaha untuk lebih percaya diri. Apalagi teman-teman yang lain juga membagi
dukungan untuk dua pihak, aku dan Faizah. Setelah tuntas melaksanakan shalat
magrib, aku tadarus sebentar dan kemudian turun menuju kelas untuk latihan
bersama Asti, Dian,dan Sybil. Semua peserta juga sibuk untuk latihan.
Teman-teman yang melihatku latihan senantiasa memberi masukan yang membangun.
“ jangan sampai panik lina….” Aku
menyemangati diriku sendiri agar lebih percaya diri.
***
Semua peserta sudah siap didalam
aula, termasuk aku dan kawan-kawan semua. Kertas yang bertuliskan teks pidato
sudah ku titipkan pada Asti. Dalam lomba pidato ini dijadikan dua sesi, untuk
yang pertama di ambil peserta yang terbaik untuk setiap bahasa. Kemudian di
adukan lagi untuk mendapatkan pemenangnya. Ada beberapa juri dari kalangan guru
dan beberapa lagi kakak alumni. Satu demi satu peserta tampil dan tiba
giliranku.
“ harus buat orang lain melihatku
beda. Bukan lagi lina yang pemalu dan kurang percaya diri.” Gumamku. Aku maju
dengan tegak dan penuh percaya diri setelah mengucapkan bismillah. Selanjutnya
adalah menentukan peserta terbaik untuk di adukan lagi setelah semua peserta
tampil malam ini. Dan ada namaku diantara deretan yang terbaik dan terpilih.
“ ini akan aku jadikan modal awal
untuk membangun rasa percaya diriku sendiri meski pertarungan ini belum
selesai. Kamu harus lebih baik lagi lin….” Seruku dalam hati.
Saat aku kembali ketempat dudukku.
Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berani menunjukan
kemampuanku. Meski pasti masih banyak kekurangan yang ada.
“ gimana tadi ekspresi aku
didepan…?” tanyaku pada beberapa teman di sekelilingku.
“ beda banget, kayak bukan lina.
Abisnya kamu kelihatan santai dan lebih percaya diri. Pembawaannya juga
santai.” Ucap beberapa teman yang ada di sekelilingku.
Sesi kedua dimulai, dan pengumuman
pemenang masih dirahasiakan. Baru akan di umumkan saat pembagian hadiah. Tapi
dalam hati aku lega.. biar dihari pengumuman saja hasil dari semua perjuangan
ini akan berakhir senang atau kecewa.
***
Tak disangka, tapi tak lupa ucapkan
syukur yang amat banyak pada Allah SWT karena telah membuat aku menjadi pribadi
muslimah yang apa adanya, tanpa harus membuat semua terlihat oke dan luar
biasa. Tapi menjadikan diriku sebaik-baiknya hamba yang senantiasa menaati
perintah dan menjauhi larangannya. Dengan jilbab dan pakaian muslimah yang baik
dan benar sesuai perintahnya. Seperti yang tertera dalam Al-Quran Qs. 33:59
Tanpa peduli pandangan orang lain. Karena hanya ada satu pandangan yang selalu
memperhatikan kita, Yakni pandangan Allah SWT. Dan banyak rasa terima kasih
kepada Ayah dan Bunda yang telah membawaku dalam lingkungan yang baik. Pemenang
lomba teks pidato bahasa Arab telah ku dapat. Dan itu manjadikan aku lebih
percaya diri untuk berbicara didepan banyak orang. Karena saat masa SD dulu aku
pernah mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia. Dan aku gugup menyelesaikan
tugasku dalam menyampaikan isi pidatoku. Setelah pengumuman lomba pidato ada
rasa puas dan lega tersendiri yang muncul. Aku jadi teringat lagu yang
menginspirasiku.
Edcoustic
~ Menjadi diriku.
Tak
seperti bintang di langit
Tak
seperti indah pelangi
Karena
diriku bukanlah mereka
Ku
apa adanya
Wajahku
kan memang begini
Sikapku
jelas tak sempurna
Kuakui
ku bukan lah mereka
Ku
apa adanya
Menjadi
diriku dengan segala kekurangan
Menjadi
diriku atas kelebihanku
Terimalah
aku seperti apa adanya
Aku
hanya insan biasa
Tak
mungkin sempurna
Tetapku
bangga atas apa yang ku punya
setiap
waktu ku nikmati
anugrah
hidup yang ku miliki
Biodata Penulis
Nama
lengkap saya Lina Sofiyah, berdomisili di daerah Tanggerang tepatnya Jl. H
Mencong gg Mi’in RT/RW 1/11 Kel. Peninggilan Utara, Kec. Ciledug Kab.
Tanggerang Kota, Prof. Banten Kode Pos: 15153
Email
: Sofiyahlina@gmail.com
Yuk silaturahmi bareng, bisa ketemu langsung di alamat yang ada di atas atau di sosmed
Facebook
: Lina sofiyah
Twitter
: @lina_sofiyah
Instagram
: @linasofiyah_
bangga jadi muslimah yang penuh semangat, percaya pada kemampuan dirinya dan bisa memotivasi sekitar. be your self...
Suka menulis, baik puisi, cerpen ataupun novel. Karya pertama yang
pernah di terbitkan adalah puisi di penerbit Ellunar Publisher. Menjadi penulis
terpilih. Terima kasih. juga penulis terpilih di Stepa pustaka dan juga di NCmedia.^^

wow, lina ga coba buat novel aja? keren deh pokonya
BalasHapuslagi proses ka banu... tunggu bukunya keluar ya...
BalasHapustapi bukan yang lina posting ini...
iya lin jadiin novel aja, ceritanya tuh kaya beneran gitu bacanya sambil ngebayangin kejadian ihihi , lanjutkan lin
BalasHapusiya lin jadiin novel aja, ceritanya tuh kaya beneran gitu bacanya sambil ngebayangin kejadian ihihi , lanjutkan lin
BalasHapusIya Wulan.. makasih krisannya ya.... insya Allah tahun ini udh ada target buat nerbitin buku.... ini terinspirasi dari kejadian dan kisah nyata.
Hapus