Satu pilihan
Satu Pilihan
Oleh
: Lina Sofiyah
Di penghujung senja daerah pinggiran kota
Tepat sebelah timur aku berdiri
Ditemani beberapa penumpang bus dalam terminal
Aku berjalan beriringan denganmu
menempuh keramaian insan
pada senja yang tersenyum mengakhiri pertemuan ini
kulambaikan tangan pada lelaki di koridor
tak lama bus melaju,
dan sosoknya sudah tak terlihat di pelupuk mataku.
November, 2013
Setelah
acara pernikahan teman kakak di kota Serang berakhir, aku segera bergegas untuk
kembali ke Jakarta. Beberapa temanku sudah mengantar hingga terminal bus, namun
tak bisa menunggu hingga aku mendapatkan bus tujuanku. Namun, lelaki di
sebelahku masih setia menunggui busku. Dia adalah teman sekaligus sahabat
dekatku selama 2 tahun terakhir ini. Bila terlihat seperti sepasang kekasih,
namun hal itu masih predikat kata jauh
dalam hubungan pertemananku dengannya. Aku berjalan beriringan dengannya hingga
masuk kedalam terminal. Tapi sekali lagi kami bukan sepasang kekasih yang bergandengan
tangan.
“
Febby, sebelum kamu pulang… kita ambil satu foto bersama ya? ” pintanya
tiba-tiba membuatku menghentikan langkahku. Dan ia sudah siap dengan kamera di
tangan kanannya.
“
bilang huwaaaah….” Ucapnya segera. Tanpa memberi aba-aba padaku. Walhasil aku
hanya bengong dengan sedikit kebodohan yang tersirat diwajahku. Akhirnya
kutepok pundaknya tanda tak setuju dengan hasil jepretannya.
“
sekali lagi, itu hasilnya jelek.. kasih aba-aba dong kalau udah siap baru
jepret..” ucapku sedikit kesal. Kini Izhar kembali mengambil posisi kameranya
dan berhitung memberi aba-aba. Dalam hitungan ketiga kami tersenyum. Tak lama
setelah itu bus tujuan kembaliku sudah berderet mengambil tempatnya
masing-masing sesuai tujuan. Aku berjalan kearah bus dan meninggalkan sosok
Izhar berdiri sendiri di dekat pintu koridor depan. Ku lambaikan tangan dan
tersenyum padanya, melepas perpisahan ini.
” selamat tinggal perantauan panjang ini…”
***
Izhar
mengirim pesan singkat yang langsung menjurus akan ungkapan isi hatinya.
“
Febby, udah lama saya suka sama kamu…
saya boleh menjadi yang lebih dari sekedar teman dekat tidak? “
Aku
mulai gelisah dibuatnya. Bukan karena aku memikirkan jawaban apa yang akan aku
berikan. Tapi, bagaimana cara menyampaikan apa yang aku fikirkan. Izhar memang
baik, pandai, berperawakan tenang dan membuat sekitarnya tenang. Tapi beberapa
kali setelah dekat dengannya ternyata dia memiliki masalah yang slalu
membuatnya gelisah dan butuh seseorang untuk sekedar mendengarkan curahan hatinya.
Awalnya aku hanya ingin membantu menghibur, dan memberi masukan padanya. Tapi
setelah dia mengatakan hal seperti ini di SMS apa yang aku fikirkan dan
rasakan. Entah, hanya saja sedikit berbeda. Rasanya memiliki teman curhat
memang sedikit membuat kita lega dan melupakan masalah yang ada. Tapi kalau
menjadi sepasang insan yang pada saat ini disebut “PACARAN” atau teman dekat…
apa tidak menjadi aneh.
“ gak perlu jawab sekarang Feb, awalnya aku mau
bilang saat perpisahan di terminal. Tapi kamu slalu terburu-buru menghindari
aku saat bicara. Setelah mendengar ceritaku, memberi masukan dan nasehat pasti
kamu langsung meninggalkanku. Aku tau pasti kamu sedikit risih berdekatan
dengan laki-laki yang bukan muhrim kamu. Oleh sebab itu aku suka kamu… ”
belum kelar kebinggunganku mengambang. Dia sudah mengirimi SMS lagi.
Tak
lama, aku putuskan untuk mengetik beberapa kalimat.
“ mungkin aneh kalau kita tiba-tiba menjadi “PACAR”.
Aku Cuma berusaha, membuat aku kamu dan sekitar kita merasa bahagia dengan sebuah
perhatian.”
Bismillah,
SEND.
Aku
sibukkan diri dengan menulis cerpen dan puisi seperti biasanya di laptop yang
kini berada tepat di depanku. Aku harap tidak ada kata-kata yang salah dalam
kalimatku di sms. Karena hampir
2 jam ku rampungkan tulisanku namun belum
dapatkan balasan dari Izhar.
***
PRANG
Satu
gelas diatas meja kini pecah lagi. Bukan tersenggol atau semacamnya, tapi
wanita separuh baya itu yang melemparnya ke sebuah dinding. Membuat kaget semua
orang yang ada di dalam rumah. Laki-laki bertubuh tegak dan berperawakan keras
itu meninggalkan dapur dan pecahan gelas yang tadi dilempar. Wanita yang di
panggilnya mama oleh laki-laki tadi menangis, melihat anak pertamanya bersikap
begitu terhadapnya. Terlebih lagi sudah tiada sosok suami di sampingnya untuk
menghibur. Hanya menggeram kemudian terisak kembali.
“
ma, apa mama sedang tidak baik sekarang…?” Izhar menghampiri mamanya yang
terduduk di dekat pintu dapur sedang menangis. Izhar menuntun mamanya ke kamar.
Sedikit geram ia pada kakak semata wayangnya. Di tambah lagi Febby bukan
manjawab pesannya dengan kata “Iya
atau tidak”
menyukainya. Ia hanya membuat bingung perasaannya.
“
aku juga suka kamu…” kalimat itu
sudah terlanjur ku kirim ke nomer Izhar. Entah aku benar atau tidak, yang
ada dalam
benakku adalah membuat oang lain tidak kecewa. Tapi ada sedikit ke khawatiran dalam fikir
dan perasaanku. Setidaknya aku tidak melihatnya langsung, aku pun berada jauh
darinya. Yang aku harapkan adalah dia menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
***
Senyum
merekah tersirat di wajah Izhar saat membaca pesan Febby. Sedikit lega dan bisa
mengusir segala risau
permasalahan di rumahnya.
“
jadi kita sekarang pacaran ya?”
balasnya.
Gusar
aku menanggapinya, tapi aku sudah terlanjur
mengatakan apa yang aku rasakan juga. Mugkin karena aku slalu menjadi pendengar
baiknya.
“
ya “ terakhir kalimat itu yang ku
balas.
***
Juli
2014
Aku
slalu berfikir akan menjadi pasangan yang baik di kemudian hari, karna Izhar
slalu menjadi orang yang mendengar nasihatku. Tidak mengabaikanku, dan perhatian
terhadapku. Kebimbangan semula
mulai pudar dan aku menyayanginya saat ini.
“
lebaran tahun ini, aku boleh kan silaturahmi ke rumahmu?” tuturnya ditelfon
sebulan sebelum
memasuki ramadhan.
Tentu
aku senang mendengarnya. Kalau dia serius padaku. Tentu dia berani datang
kerumah dan bertemu ayah dan bunda.
“
ehm…” Aku menjawab pendapatnya dengan tersenyum dan mengangguk.mungkin Izhar
dapat merasakan kebahagian yang aku perdengarkan kepadanya.
***
Izhar
menepati janjinya. Dia berani menemui ku dirumah, tapi tak sendirian dia
mengajak Ali, Burhan, Sidqi, Alisya, dan Fatia. Mereka berlima juga teman satu
angkatanku. Meski Izhar tak datang
sendirian atau hanya dengan mamanya, tapi aku senang menyambut mereka.
“
Ayah sama bunda mana?” Izhar menanyakan keberadaan orang tuaku.
“Ayah
abis motong ayam peliharaannya. Kata
ayah ingin menyambut temen-temen. Dan bunda
lagi masak jadi
kita nanti bisa bakar-bakar ayam deh…”
ujarku seraya meninggalkan mereka diruang tamu untuk mengambil minum untuk mereka.
***
Desember
2014
Mungkin
jarak jauh dengan seseorang yang kita sebut pacar akan membuatku lebih mengerti
dan saling menjaga. Tapi sudah hampir
2 minggu terakhir ini aku dan Izhar kehilangan kontak masing-masing. Karena hp
ku rusak. Aku dan Izhar tak saling mengontak. Setelah hp ku sudah sembuh dari
krisisnya usia, ternyata aku punya nomernya yang tercatat di buku
diaryku. Kukirim sapaan singkat. Namun ia
malah bukan membalas
kata-kata rindu atau penyesalan karena aku sulit untuk di hubungi. Kata-katanya
sedikit kasar dan membuat aku takut kalau ini bukan lagi nomernya. Tak ada
pilihan, akhirnya aku beranikan diri menanyakan rasa penasaanku pada Ali,
sahabat dekatnya.
“
setau gue, hp dia juga abis hilang jadi mungkin aja bukan dia yg bales.”
“huft…”
sedikit lega mendengarnya. Antara sedikit kecewa dan tidak tentunya. Aku senang
kalau memang bukan dia yang membalas, karena aku tidak suka kata-kata yang kasar dan
terbaca seperti membentak. Aku tidak pernah dimarahi orang tuaku seperti itu. Tapi
jika ada orang lain seperti itu padaku. Aku hanya bisa menangis. Tapi kecewa karena aku tidak bisa menghubunginnya.
“
Oke Ali, makasih infonya…”
***
Tanggerang,
2015
KRING
Ada
beberapa kali panggilan masuk dari nomer baru. Aku baru saja menyelesaikan
tugas rumahku. Jadi tak mendengar panggilan masuk. Sekali lagi ponselku bordering.
BIP
Aku
mengangat panggilan nomer itu.
“Assalamualaikum”
“waalaikumsalam..
ini siapa ya?” tanyaku karena tak mengenali suara orang diseberang sana.
“
Febby, kamu lupa sama saya?” tanyanya balik. Aku sedikit mengingat.
“
siapa ya..?” aku masih berfikir tentang siapa dia sebenarnya. Tapi dia mulai
memberi clue bahwa dia adalah orang yang slalu bercerita dan aku adalah
pendengar terbaiknya.
“Izhar…???”
agak canggung mendengar suaranya lagi. Dan percakapan panjang llebar mulai
bererai. Banyak cerita yang ia perdengarkan padaku. Aku hanya menanggapiya
sesekali kalau dia meminta pendapatku.
***
Agustus
2015
Hampir
satu bulan Izhar tak menyapa atau bercerita padaku. Satu minggu ini juga ia
tidak membalas pesanku. Beberapa teman dekatnya menceritakan padaku bahwa Izhar
mulai bergaul lagi dengan kawan-kawan lamanya. Ali, Burhan, dan Sidqi memintaku
untuk menasehatinya lagi. Tapi aku tak mau, terakhir kali bercakap dengannya lewat
telfon. Nasihat dan saranku tak di gubrisnya. Dan itu menyadarkan aku, bahwa
pacaran dalam bentuk apapun sedekat atau sejauh apapun jaraknya. Nasihat atau
malah menjadikan segalanya keliru dan salah. Kebanyakan darinya adalah masalah.
Akhirnya aku putuskan untuk bersikap tegas dan mulai mengakhirinya.
“ Izhar, kita temanan aja ya.” Singkat aku
tuliskan pesan. Tak banyak yang ingin aku katakan. Aku tak ingin ada kesalahan
lagi dalam mengambil keputusan.
Butuh
waktu 2 hari menunggu jawaban Izhar, dia mungkin mengabaikan pesanku.
“ kenapa feb???”
akhirnya balasan pesan darinya kuterima.
“ aku melihat ada yang salah dari perbuatanku,
tindakanku, cara berfikirku. Kalau pacaran bukanlah jalan untuk berbuat baik.
Mungkin kalau kita berteman akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan ini
adalah pilihanku. Aku harap kamu bisa menerimannya.” Tuturku ingin segera
mengakhirinya bila saja tak ada pembahasan atau pertanyaan lagi darinya.
“ kalau menurut kamu itu lebih baik. Aku
terima.” Usainya, tak lagi menanyakan atau menghindari keinginanku. Mungkin
dia sudah menyadari apa yang telah terjadi. Dan aku harap pilihanku tak salah
kali ini. Senyumku kali ini lebih mengembang dari sebelumnya, ada rasa lega
tersendiri setelah semua ku akhiri. Kini aku lebih siap menghadapi ujian lainnya,
bukan lagi menjadikan beban dalam menjalin pertemanan dengan seseorang yang
kita sukai. Aku yakin Allah sudah menyiapkan apa yang terbaik bagi
hamba-hambanya yang sholeh- sholehah.
***
Tiga bulan berlalu,
Aku
senang mendapatkan nilai IPK ku yang tertinggi. Ternyata semua hal yang
menggangu pikiranku telah terselesaikan. Menjadikan kita lebih percaya bahwa
idola tertinggi adalah sang maha pemberi kasih sayang. Tiada lagi.
Aku
dengar Izhar sudah punya pacar lagi. Tapi aku lebih senang dan siap dengan
keputusanku. Bahwa meninggalkannya adalah jalan terbaikku. Bukan kesalahanku,
dan penyesalan bukan kata tepat untukku.
Kamu tau kalau jodoh itu rahasia Allah, tapi kenapa masih
pilih-pilih buat mencari yang terbaik dengan pacaran, padahalkan Allah
menciptakan makhluknya sudah berpasang-pasangan.. berarti kamu belum percaya
akan ketetapan Allah. Dan aku percaya akan ketetapan yang Allah berikan.
Aku menulis di secarik kertas usang, kemudian dia pergi
terseret angin malam. Dan saatnya kembali ke kamar kecilku yang hangat.
The And


suka suka cerpen
BalasHapusmakasih ka akhmal..
HapusDilarang pacaran lho ya:)
BalasHapus