kopi logue
KOPI LOGUE
Oleh : Lina Sofiyah
Bukan
lagi kamu yang dulu, yang selalu menjadi pemanis dalam setiap racikanku.
seperti menuang secangkir kopi panas tanpa gula. Kau, begitu tega membiarkan
pahit menyela tenggorokanku. Memberi jalan panas dalam pijakanku. Dan
meninggalkanku bagai ampas hitam dalam cangkir yang mulai retak di atas meja
kecil, diruangan kedap udara. Meyisakan sesak yang begitu dalam di setiap hela
nafas rapuh ini.
Serang, 2013
Lapangan
pondok pesantren di banjiri lautan almamater biru, 63 siswa-siswi dinyatakan
lulus 100 persen. Dengan yudisium terbaik tahun ini, menambah keceriaan di
deretan wajah alumni santriwan dan santriwati. Satu persatu mereka mulai
memasuki area panggung yang didirikan sejak 2 hari yang lalu. Piagam dan medali
pun di serahkan dan di sematkan di leher para alumni.
“ Hasna Fatimah….” Namaku di
sebut. Ada rasa lega tersendiri yang begitu refleksnya terasa. Meski mataku
mulai basah dinaungi air mata antara bahagia dan sedih. Ku lirik sekeliling,
tak ada sosok yang aku cari. Keluargaku, mereka belum tiba saat namaku di
sebutkan. Dengan berat hati, aku naiki anak tangga ke atas panggung. Salah satu
guru sekaligus Pembina koperasi pesantren yang mewakiliku menjadi wali. Ribuan
mata memandang mungkin merasa kagum, tapi aku dengan wajah yang kupaksakan
untuk tersenyum masih menampakan mata yang tergenang air kesedihan. Namun, aku
senang diwakili oleh orang penting seperti beliau.
Suka duka, senang sedih, dan haru
biru selama menjadi anak santri terlewati sudah. Berbekal ilmu dan banyaknya
kenangan yang sudah di dapat, akan kami bawa pulang ke kota masing-masing,
meski sedih juga bergejolak dalam hati meninggalkan tempat yang begitu banyak
menyimpan memori dan ungkapan emosi. Terlebih aku yang sejak awal memasuki
ranah pesantren menyimpan banyak cerita. Mulai dari si ingusan cilik yang
cengeng saat di tinggal oleh keluarganya untuk menimba ilmu dikota rantauan
Serang, Banten. Hingga sekarang menjadi alumni dengan yudisium yang baik.
Banyak perjuangan yang sudah dilalui, bahkan untuk menuliskannya dalam sebuah
buku. Mungkin akan menjadi satu novel tertebal sepanjang jangkauanku.
“ Alhamdulillah yeeeeay…..” sorak
sorai gembira terucap lepas dari kami semua.
***
Ruang
kelas XII Sains,
Semua sudah berkumpul, bukan untuk
belajar. Tapi perpisahan bukan berarti memutus hubungan persaudaraan yang sudah
terjalin. Andi, ketua angkatan pun ambil posisi, kami membuat lingkaran setelah
meja dan kursi selesai di rapihkan. Andi membimbing teman-teman untuk menyusun
rencana setelah kelulusan.
“ apa yang akan kita kerjakan
setelah lulus…?” pertanyaan pertama yang Andi lontarkan. “ kuliahkah?
Bekerjakah? Menikahkah? Itu semua akan menjadi keputusan dari masing-masing
kita…” ujarnya melanjutkan kata-katanya yang sempat terpotong tadi.
Aku mulai bertanya juga, karena
mungkin aku tidak akan langsung merasakan bangku perkuliahan. Beberapa sebab
membuat aku menanam dulu keinginan untuk kuliah. Tapi juga tidak untuk langsung
menikah. Dan pilihan terakhirku adalah bekerja. Ya, mungkin itu jalan
terbaiknya. Yang lain pun sedang memikirkan bayangan apa saja mereka nanti
kedepannya.
“ prestasi apa yang akan kita raih
nanti….” Pertanyaan selanjutnya.
Beberapa ada yang sibuk memikirkan
ada juga yang asik menjawab dan bergurau menanggapinya.
“ jangan tegang teman-teman, setelah
ini kita akan mengunjungi salah satu rumah saudara kita di Pandeglang.” Arif
angkat bicara menambahkan pembicaraan yang kelihatannya kaku sejak tadi. Kami
memang sepakat akan melaksanakan perjalanan kesana. Setelah menyelesaikan
kesepakatan meja bundar versi kami di ruangan kelas yang tak lama lagi akan
kami tinggalkan sejarahnya disana.
Aku mulai melihatmu, sedikit demi
sedikit panas cahayamu begitu menyilaukan. Hampir saja aku terjatuh tanpa ada
penyanggah dibelakangku. Tapi, aku punya kalian. Yang siap menopangku dari
berbagai arah. Menjadi pengingatku saat lupa. Menjadi penyemangatku dikala
rapuh. Dan menjadi kerlap kerlip cahaya penerangan dikala malam gelap gulita
bercerita.
***
Pukul 11.30 wib
Suasana
pegunungan yang masih asri, bak di puncak. Meski siang hari, namun udara masih
terasa sejuk. Semua meletakan barang bawaannya di kamar masing-masing. Semua melenggangkan
otot-otot kaki setelah melewati perjalanan kecil ini. Setelah istirahat dan
shalat dzuhur, kami berkumpul di depan rumah Mila. Tempat yang kami jadikan
sasaran dalam agenda tujuan kami setelah kelulusan kemarin. Untuk siang ini
kami masih merepotkan keluarga Mila, karena siang ini kami di masakan makanan
yang enak dan menggiurkan lidah. Sekejap sifat ala santri kami mulai terlihat,
mengantri mengambil makanan yang di sajikan lesehan. Menggelar daun pisang yang
sudah Aldo dan Mail petik sebelumnya. Tawa canda kami memecahkan keheningan
rumah Mila. Setelah makan, beberapa ada yang mencuci piring dan yang lainnya
membenahi bale dan saung.
“
kumpul deh sini…” Teriak Umay. Yang berada dekat Umay segera mendekat,
sedangkan yang lain masih ada yang asyik menyelesaikan tugasnya.
“
ngapa lu may…?” Tanya sandi. Di ikuti tanda tanya yang lainnya juga.
“
weh.. pada lupa kali agenda kita abis ini…?” Umay balik bertanya.
“
emang apaan sih agendanya? Kita kan belum tau..” ujar Sybil dan Syifa.
“
oia, tadi lupa gue kasih tau anak perempuan…” Ichol menepuk jidatnya. Ia selaku
sekertaris lupa memberitahu agenda kita selama 2 hari di Pandeglang.
Di
ambilnya buku agenda dari ruangan kamar.
“
jadi kita udah sepakatin ke Mila, kalau kita mau liat perkebunan kopi
keluarganya…” Andi menjelaskan selagi Ichol mengambil buku agenda.
“
wih seru nih, yuklah….” Mail bergegas sigap untuk menjalankan agenda kali ini.
Di susul Irul dan Syarif yang sudah berdiri ingin mengikuti Mail.
Diena,
Diva, dan Arifah ikut menimbrung setelah menyelesaikan cucian piring tadi.
“
tunggu dulu, tadi Uchi sama Nisa lagi ke Supermarket mau beli bahan cemilan
buat nanti malem.” Ujarku mencegah mereka sebelum pergi. Mila dan Asti
mengangguk. Dia tau, karena tadi Uchi dan Nisa pamit pada kami bertiga.
“
beuh… bagi-bagilah cemilan cepuluhnya….” Gurau Aldo. Di setujui Wahidin,
Ridwan, Ichol, Fauzan dan Irfan yang masih duduk diantara kami semua.
“
beli dewek…” ada yang nyeletuk. Aku dan yang lain menyetujui.
“
iya weh, beli dewek sana….” Aku lanjutkan.
“
berbagi geh…” Arief angkat suara.
“
bercanda rif, jangan baper…..”
Tawa
lepas pun membahana di sela-sela obrolan kami. Dari arah gerbang Nisa dan Uchi
memasuki halaman rumah Mila yang luas untuk memarkirkan kendaraan kami.
Belanjaan pun di titipkan ke mama Mila. Kami segera mengejar Mail, Irul dan Syarif
ke perkebunan kopi.
***
Apa
yang kau lihat?
Begitu
luas hamparan pohon di depan mata kita. Akankah sirna tanpa makna. Petik satu
hikmah dalam perjalanan, hingga kita bisa satu kembali di kemudian hari.
Aku, Dini, Winda dan Faizah sudah
menyiapkan keranjang untuk memetik kopi. Tentu tak kami lewatkan moment ini
untuk mengabadikannya dalam foto.
“ yuk foto bareng dulu….” Ita
memberi aba-aba. Yang lain mendekat. Luthfi yang sedari tadi menggenggam kamera
memberikannya kepada paman Mila yang bersedia mengambilkan gambar kami semua.
Roya dan Aida yang sedang asyik memetik pun langsung mendekat. Kami komplet 63
orang.
“ 1, 2, ti….ga…” Cekrek.
***
Meski
tidak ikut terjun dalam meracik kopi yang sedang di olah bibi Mila, kami semua
memperhatikan.
“
siapa yang mau jadi calon barista…?” celetuk Mila.
“
cukup jadi penikmat kopi aja deh Mil…” jawab Marsha yang sedari tadi diam.
“
iya jadi penikmat dulu aja dah gue…” di iyakan Ilyas.
“
udah jadi nih… bantu bagiin deh sini…” pinta Mila. Yang lain membuat lingkaran
sedangkan Eni, Nida, Bahtiar dan Rafaj membantu Mila.
“
menikmati secangkir kopi asli dari kebunnya emang terasa beda banget ya….” Arif
mulai mengumandangkan kata-katanya.
“
di temani langit senja yang menguning emas kemerahan…” timpal Andi.
“
lah jadi puitis-puitisan gini…” ujar Dian heran.
“
jangan heran sama mereka mah…” Dini membalas.
Faris mengambil gitar yang di
bawakan Irham, dan memainkannya. Uzamah mengambil gendang, Rifki sudah bergaya
ala Maher zain dengan menggengam kopi yang masih utuh dari pohonnya. dan para
anak nasyid mulai bersenandung. Yang lainnya menikmati aroma kopi yang sudah di
bagikan.
“
Rotinya nih lupa…” seru Atri.
***
19.00
wib
Semua perlengkapan sudah tersusun rapih.
Beberapa tas berisi bekal makanan yang akan di bawa. Karena ini pertama kalinya
kami hiking satu angkatan. Kami akan mendaki gunung karang, Pandeglang. Kami
memulai perjalanan malam, agar nanti subuh kita bisa sampai di puncak dan
mendapatkan sunrise. Setelah shalat isya dan makan malam. Perjalanan kami
mulai, 14 orang laki-laki di depan dan 20 lainnya di belakang para anak
perempuan. Mereka menjaga-jaga keamanan.
Malam ini langit begitu cerah,
hingga entah berapa puluh milyaran bintang yang terbentang di langit. Dan
ditemani cahaya rembulan yang memberanikan kami melangkah. Masing-masing dari
kami memegang senter tapi tak semua dinyalakan. Agar menghemat batrai.
“ kalau nanti di tengah perjalanan
ada yang merasa lelah wajib lapor ya…” seru Azzam mengingatkan.
“ iya, pokoknya gak boleh ada yang
malu kalau mulai kelelahan mendaki…” Faqih menambahi.
Semua
mengangguk tanda mengerti.
Tanpa terasa, perjalanan kami lalui
sudah satu jam lebih. Angin malam mulai terasa dingin. Semua mulai merapatkan
jaket masing-masing. Belum ada yang mengeluh kelelahan tapi Andi sudah
mempersilahkan semua untuk istirahat sejenak. Beberapa dari kami mulai meneguk
air minum yang kami bawa. Dan merenggangkan otot kaki dan pundak yang menopang
ransel besar.
“ perjalanan kita masih panjang, 3
jam lagi baru kita mulai mendirikan tenda untuk istirahat.” Ujar Irham
memberitahu rute perjalanan dan agenda yang sudah disusun.
Setelah 15 menit beristirahat,
kami teruskan perjalanan. Jalanan sedikit becek karena kemarin sore hujan
mengguyur kota Pandeglang. Athifah dan
Pipit terpeleset, Lulu dan eva yang memegang peralatan P3K langsung menepi yang
lain ikut berhenti dan mengobati Athifah dan pipit yang sedikit terkilir dan
membersihkan rok yang kotor.
“ ambilin minyak zaitun di kotak
P3K….” pinta Eva. Lulu mencari dan memberikannya pada Eva. Anak laki-laki
mengambil posisi kelain arah agar tak memperhatikan Athifah dan Pipit yang
sedang di obati. Butuh waktu setengah jam untuk kami meneruskan perjalanan
karena kecelakan tadi.
“
teman tahu dimana waktu memerlukannya, dengan senang hati tanpa paksaan pasti
akan hadir… membantu dan menolong. Karena perjalanan kami sesungguhnya adalah
mempererat persaudaraan dan silaturahmi kami.”
***
23.30
wib
Kami
sampai ditempat pendirian tenda. Sebelum mendirikan tenda kami mencari kayu
bakar untuk perapian dan memasak. Semua sudah mendapatkan tugasnya
masing-masing. Satu jam berlalu dan kami baru bisa beristirahat dengan
sempurna. Masakan pun sudah jadi, beberapa ada yang hanya meneguk kopi yang
kami bawa. Menikmati kopi ditengah hamparan alam yang dingin memang mempunyai
rasa enak tersendiri.
“
ah, nikmat sekali. Sulit dijelaskan dengan kata-kata…” Mail berpuitisme.
“
lebay loe…” timpal Majid
Sebagian muroja’ah hafalan
terakhir kali di pondok.
Anak
perempuan memasuki tenda, sudah larut malam untuk memejamkan mata. Jam
menunjukan pukul 01.15 wib. Ada sebagian yang mengobrol. Karena tidak mengantuk
dan mata masih ingin terjaga. Satu jam istirahat berlalu dan kami harus
melanjutkan mendaki agar sampai tepat pada waktunya.
***
Tahukah
kamu apa itu bahagia? Rasa yang begitu kita dapatkan membuat wajahmu
mengekspresikan senyuman lebar. Rasa yang ketika kita dapatkan membuat kita
saling berbagi dan menerima. Dan aku bahagia, berada diantara keduanya.
Merasakan betapa bahagianya memiliki rasa persaudaraan yang begitu teramat kita
sayangkan untuk perpisahan yang ada di depan mata kelak.
Adzan subuh baru saja Irul
kumandangkan. Dan kami semua berada tepat diatas puncak gunung karang,
Pandeglang. Kami segera melaksanakan shalat subuh dengan senang. Biasanya subuh
kita lalu di rumah, dan kali ini kami di alam terbuka. Pengalaman seperti ini
pernah kami lakukan saat persami dulu. Tapi kali ini lebih menantang. Mendaki.
“ kemari….” Panggilku. Aku
melihat matahari malu-malu muncul dari arah timur. Wajahku sumringah. Yang lain
mendekat.
“ Masya Allah, indah banget ya..”
decak kagum yang lain mengikuti.
Hampir 10 menit kami saling
mengagumi keindahan alam dari atas sini. Setelahnya kamera yang berbicara
mengenai perasaan kami saat itu. Semua terekam dalam memori yang kami abadikan.
Kami menyuguhkan kopi lagi di atas sini menikmatinya di setiap kesempatan yang
ada. Dan kami membuat game, siapa yang kalah meneguk 2 gelas kopi yang sudah di
sediakan. Gelak tawa terpancar, matahari pun mulai terasa teriknya. Setengah
jam lagi kami akan turun. Namun sebelum itu, kami berdoa dan bersyukur lebih
dulu. Untuk waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami semua.
“ Alhamdulillah, semoga
perpisahan kita bisa menjadi awal pertemuan kita lagi nanti di kemudian hari…
dan kita bisa mengadakan perjalanan seperti ini lagi.”
“ amiiiiiiiiin….” Serempak kami
mengamini. Dan 2 gelas kopi pun menjatuhkan pilihannya pada Irfan yang kalah
mengikuti game yang kami buat bersama. Yang lain menikmati hangatnya udara dan
segelas kopi hasil perkebunan sendiri.
***
The End
Biodata Penulis
Nama lengkap saya Lina Sofiyah, berdomisili di
daerah Tanggerang tepatnya Jl. H Mencong gg Mi’in RT/RW 1/11 Kel. Peninggilan
Utara, Kec. Ciledug Kab. Tanggerang Kota, Prof. Banten Kode Pos: 15153
Email : Sofiyahlina@gmail.com
No. HP : 085717788972
Facebook : Sofhia Zee
Instagram : @Sofhiazee
Suka
menulis, baik puisi, cerpen ataupun novel. Karya pertama yang pernah di
terbitkan adalah puisi di penerbit Ellunar Publisher. Menjadi penulis terpilih. Dan menjadi penulis terpilih dalam 1000 karya
penyair di bebuku publisher. Terima kasih.

bangga punya ade yang terus berkarya tanpa lelah dan letih karena kamu punya semangat yang tinggi.
BalasHapusterima kasih ka akhmal... ini karena hobi juga dalam menulis... tapi mungkin masih perlu banyak belajar
BalasHapus